CAHYOGA.net - beta 2


Analisis Neraca Energi dan BBM Nasional

Logged on Catatan Orang Muda by Cahyoga @ 22 Sep 06, 20:55 | Visits: 8996

Antri BBM (sumber: Suara Pembaruan)Tulisan ini merupakan buah kegalauan saya pada saat pemerintah menaikkan harga BBM mencapai 100% pada awal puasa Oktober 2005 lalu. Kesimpangsiuran informasi dari media, lembaga pemerintah, dan LSM akhirnya memaksa saya untuk berusaha mencari data sendiri mengenai informasi kemampuan produksi nasional, dibandingkan dengan kebutuhan nasional akan BBM. Meski hanya sekedar untuk mencari kepuasan pribadi dan membunuh rasa ingin tahu yang sudah sedemikian memuncak.

Berikut adalah hitungan amatiran saya mengenai Neraca Energi dan BBM. Semoga ada yang bisa memberikan data yang lebih shahih dan cara perhitungan yang lebih profesional dari saya, sehingga dapat memberikan pencerahan yang lebih baik.

Neraca Energi 2004

Sumber : Departemen ESDM
Lampiran E1 dan E2 halaman 30 dan 31
Satuan : ribu barel per hari (baik Minyak Mentah maupun BBM)

========================
1.A. Minyak Mentah Masuk
========================

Produksi Nasional…………..1125
Impor……………………………487

Total 1612

========================
1.B. Minyak Mentah Keluar
========================

Ekspor…………………………… 514
Kilang Mandiri (Domestik)…….127
Kilang Mandiri (Impor)……………3
Kilang BBM (Domestik)……….484
Kilang BBM (Impor)…………….484

Total 1612

========================
2.A. BBM Masuk
========================

Hasil Kilang……………………822
Impor……………………………212

Total 1034

========================
2.B. BBM Keluar
========================

Penjualan BBM……………….1028
Susut Distribusi…………………6

Total 1034

========================
3.A. Input Minyak Mentah di Kilang
========================

Kilang Mandiri (All)…………..131
Kilang BBM (All)……………..968

Total 1099

========================
3.B. Output Proses di Kilang
========================

BBM……………………………822
Non BBM……………………..284

Total 1106

========================
4. Analisis
========================

Total Minyak Mentah yang diinputkan di kilang adalah 1099. Hasil BBM dari proses tersebut adalah 822.

Angka perbandingan BBM yang dihasilkan dibagi dengan total Minyak mentah yang diinputkan pada proses kilang adalah (822 / 1099) = 74.80%

Selanjutnya ini adalah perhitungan yang saya istilahkan masih amatiran. Perhitungan yang sangat2 lugu dari salah seorang rakyat Indonesia yang memang merasa belum pernah diberitahu secara transaparan oleh instansi yang berwenang.

Jumlah produksi minyak mentah nasional adalah 1125. Seandainya seluruh jumlah ini diolah dengan kilang kita (tentu saja dengan asumsi secara teknologi bisa), maka kita bisa mengasosiasikannya dengan angka pembanding 74.80% yang sebelumnya sudah dihitung.

74.80% dari 1125 adalah 841,45. Jadi dengan segala asumsinya, berdasarkan perhitungan ini maka BBM yang dapat dihasilkan oleh produksi dalam negeri adalah 841,45.

Total kebutuhan nasional untuk BBM adalah 1034. Maka angka 841,45 berarti sudah memenuhi 81.38% dari total kebutuhan nasional BBM. Sisanya yang berjumlah 18.62% mestinya memang harus impor ke luar negeri.

========================
5. Penutup
========================

Dengan asumsi bahwa perhitungan di atas benar, maka sesungguhnya nilai komponen impor BBM kita adalah sekitar 18.62%. Sehingga apabila harga minyak dunia melonjak dari $ 60 menjadi $ 70 misalkan (yang berarti naik skt 17%), maka pengaruhnya ke kenaikan komponen BBM nasional kita seharusnya hanya 17% dari 18.62% (atau tidak sampai 3.5%). Sama sekali tidak memepengaruhi hingga mencapai 17% dari 100% total kebutuhan BBM nasional.

Saya yakin bahwa banyak yang menyangsikan bahkan menyangkal penghitungan lugu ini. Namun saya pikir, hitung-hitungan ini tidak akan meleset jauh dari angka riilnya. Kalaupun impor kita naik karena harga minyak dunia naik misalkan, maka nilai ekspor kita tentunya juga
ikut naik. Kalo di bilang bahwa mendatangkan minyak mentah dari luar negeri dan mengolahnya itu butuh biaya besar, maka yang juga saya pernah dengar adalah bahwa kualitas minyak kita itu termasuk bagus dibandingkan dengan yang kita impor. Sehingga harganya pun memiliki selisih.

Saya sebenarnya juga membuat perhitungan serupa dari Neraca Energi 2003. Namun tidak dapat saya sampaikan rinciannya untuk saat ini. Sumbernya sama dengan sumber tahun 2004, yaitu Departemen ESDM.

Dari data dengan format, satuan, dan rincian yang cukup signifikan berbeda dengan referensi Neraca Energi 2004, ternyata hasil yang diperoleh tidak berbeda jauh. Apabila tahun 2004 menghasilkan angka 81.38%, maka perhitungan untuk tahun 2003 menghasilkan angka 82.00%.




No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong> .